percakapan YM dengan seorang teman keturunan tionghoa yang kebetulan tidak beragama islam :
Autie Minati : udh mantep dgn topik TA lo?
D*** N***** : insya allah uda
Autie Minati : INSYA ALLAH ??????????
D*** N***** : smoga gak perlu revisi lg soal mslh dan metodologinya
Autie Minati : pke bhs agama lo donk
Autie Minati : hehehehe
D*** N***** : ABIS GW GAK NEMU KATA2 TRANSLATE ‘INSYA ALLAH’ YG LAEN
D*** N***** : DI ALKITAB GAK ADA
Autie Minati : haha
D*** N***** : pdhl menurut gw tuh kata2 bagus deh
Autie Minati : abis padat singkat
D*** N***** : dan menjelaskan yg gak bs dijelaskan
D*** N***** : sperti mau blg ‘iya’ tp gak terkesan sombong ato over PD
D*** N***** : gak ada sinonim laennya yg pas
hwaa.. saya jadi terpesona dengan kalimat itu.. teman saya aja bisa merasakan keindahannya.. Insya’Allah adalah ucapan seseorang yang menyertai pernyataan akan berbuat sesuatu pada masa yang akan datang. Dengan mengucapkan perkataan ini seorang muslim telah berjanji untuk melakukan perbuatan tersebut kecuali tidak memungkinkan pada saat akan dilakukan..
”Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu ’sesungguhnya aku akan mengerjakan esok,’ kecuali (dengan mengucapkan) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah ‘mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS Al-Kahfi: 23-24)
Jadi ceritanya, Rasulullah SAW ditanya oleh salah seorang sahabat tentang kisah Ashabul Kahfi. Pertanyaan itu adalah berapa tahun Ashabul Kahfi berlindung dan menghabiskan masa persembunyiannya di dalam Gua Alkahfi? Dan, berapa jumlah anggota yang tergabung dalam Ashabul Kahfi ketika itu? Lima orang dengan
seekor anjingnya atau tujuh beserta anjingnya? Rasulullah SAW saat itu tidak sanggup memberi jawaban yang pasti. Lantas, beliau berkata kepada sahabat yang bertanya, ”Jawabannya akan kuberikan besok.” Biasanya, pada saat-saat seperti itu, turunlah sebuah wahyu sebagai jawaban pada keesokannya. Keesokan harinya, fajar telah menyingsing dan menyambut mentari terbit di ufuk timur. Sang surya kian menyemai panas sehingga tiba waktu dzuhur. Namun, wahyu dari Sang Khalik tak kunjung turun memberitakan sebuah jawaban. Akhirnya, sore kian tampak. Senja pun memerah mengantar kegelapan malam. Berhari-hari Rasulullah SAW menanti wahyu itu. Lima belas hari terlalu, turunlah wahyu sebagai jawaban disertai teguran dalam surat Alkahfi. Adapun jawaban atas pertanyaan sahabat tadi tertera di dalam ayat 22, 25, dan 26. Sejak saat itu, Rasulullah SAW tidak pernah lagi alpa menyebut “Insya Allah” setiap kali berjanji kepada umatnya untuk hal-hal yang akan beliau ucapkan dan lakukan.
Sayangnya, banyak juga yang jadi menyalah gunakan kalimat ini.. Yah standarlah ya, jd kalimat sakti pengganti kalimat “sebenernya gw males, tp gk enak nolaknya ma lo”.. hehe.. Hmm, mencuri ide dari blog2 orang laen, kalimat ini ternyata mengandung banyak makna di dalamnya, seperti :
- Ekspresi kerendahan hati (tawadhu’). Ini nih sperti yang kata teman saya tadi. Tanpa mengucap kalimat Insya Allah kan sepertinya ada sikap sombong dalam diri kita bahwa diri kita adalah penentu segala sesuatu di masa depan. Padahal tentunya ada peran Tuhan kan di situ?
- Campuran dari usaha dan pasrah. Dalam kata insya Allah terkandung suatu ketidakpastian akan apa yang terjadi besok. Keyakinan ini akan melahirkan motivasi untuk mempersiapkan secara sempurna segala sesuatunya serta memastikan apa yang akan terjadi seperti yang dikehendaki.
- Dalam kalimat insya Allah tersimpan keyakinan yang kukuh, bahwa Allah SWT terlibat dan punya andil dalam segala tindak-tanduk manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah SWT ini akan memupuk tumbuhnya akhlaq al-karimah.
